Jumat, 09 Desember 2011

PERANAN IMAN DALAM MENGHADAPI DAMPAK GLOBALISASI


PERANAN IMAN DALAM MENGHADAPI DAMPAK GLOBALISASI


UNS.jpg















Oleh  :
Budi Utomo
K5411012


PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA

BAB I

PENDAHULUAN


Implementasi Iman Dan Taqwa Dalam  Menghadapi Dampak Globalisasi


Aktualisasi taqwa adalah bagian dari sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu pentingnya taqwa yang harus dimiliki oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini sehingga beberapa syariat islam yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan diri seorang muslim supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap khatib pada hari jum’at atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa. Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa taqwa adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).
Taqwa adalah satu hal yang sangat penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi taqwa bagi umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah refleksi iman seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti binatang, jin dan iblis jika tidak mangimplementasikan keimanannya dengan sikap taqwa, karena binatang, jin dan iblis mereka semuanya dalam arti sederhana beriman kepada Allah yang menciptakannya, karena arti iman itu sendiri secara sederhana adalah “percaya”, maka taqwa adalah satu-satunya sikap pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan sudah mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya dengan  bertaqwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, dan dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan agamanya dikarenakan kesibukannya atau asumsi pribadinya yang mengaggap eksistensi syariat agama sebagai pembatasan berkehendak yang itu adalah hak asasi manusia, kendatipun dia beragama akan tetapi agamanya itu hanya sebagai identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka orang semacam ini tidak sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih rendah dari binatang, karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut manusia dapat melakukan analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa sebagai wujud implementasi dari keimanannya.
Taqwa adalah sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan ini. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam kehidupan modern yang serba mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh. Setiap detik dalam kehidupan umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang dilarang agamanya akan tetapi sangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah lagi kondisi religius yang kurang mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan kondisi umat islam terdahulu yang kental dalam kehidupan beragama dan situasi zaman pada waktu itu yang cukup mendukung kualitas iman seseorang. Olah karenanya dirasa perlu mewujudkan satu konsep khusus mengenai pelatihan individu muslim menuju sikap taqwa sebagai tongkat penuntun yang dapat digunakan (dipahami) muslim siapapun. Karena realitas membuktikan bahwa sosialisasi taqwa sekarang, baik yang berbentuk syariat seperti puasa dan lain-lain atau bentuk normatif seperti himbauan khatib dan lain-lain terlihat kurang mengena, ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yang pertama  muslim yang bersangkutan belum paham betul makna dari taqwa itu sendiri, sehingga membuatnya enggan untuk memulai, dan yang kedua ketidaktahuannya tentang bagaimana, darimana dan kapan dia harus mulai merilis sikap taqwa, kemudian yang ketiga kondisi sosial dimana dia hidup tidak mendukung dirinya dalam membangun sikap taqwa, seperti saat sekarang kehidupan yang serba bisa dan cenderung serba boleh. Oleh karenanya setiap individu muslim harus paham pos – pos alternatif yang harus dilaluinya, diantaranya yang paling awal dan utama adalah gadhul bashar (memalingkan pandangan), karena pandangan (dalam arti mata dan telinga) adalah awal dari segala tindakan, penglihatan atau pendengaran yang ditangkap oleh panca indera kemudian diteruskan ke otak lalu direfleksikan oleh anggota tubuh dan akhirnya berimbas ke hati sebagai tempat bersemayam taqwa, jika penglihatan atau pendengaran tersebut bersifat negatif dalam arti sesuatu yang dilarang agama maka akan membuat hati menjadi kotor, jika hati sudah kotor maka pikiran (akal) juga ikut kotor, dan ini berakibat pada aktualisasi kehidupan nyata, dan jika prilaku, pikiran dan hati sudah kotor tentu akan sulit mencapai sikap taqwa. Oleh karenanya dalam situasi yang serba bisa dan sangat plural ini dirasa perlu menjaga pandangan (dalam arti mata dan telinga) dari hal – hal yang dilarang agama sebagai cara awal dan utama dalam mendidik diri menjadi muslim yang bertaqwa. Menjaga mata, telinga, pikiran, hati dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama, menjadikan seorang muslim memiliki kesempatan besar dalam memperoleh taqwa. Karena taqwa adalah sebaik–baik bekal yang harus kita peroleh dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana dan pasti hancur ini, untuk dibawa kepada kehidupan akhirat yang kekal dan pasti adanya. Adanya kematian sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dapat dikira-kirakan serta adanya kehidupan setelah kematian menjadikan taqwa sebagai obyek vital yang harus digapai dalam kehidupan manusia yang sangat singkat ini. Memulai untuk bertaqwa adalah dengan mulai melakukan hal-hal yang terkecil seperti menjaga pandangan, serta melatih diri untuk terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, karena arti taqwa itu sendiri  sebagaimana dikatakan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa adalah “imtitsalu awamrillahi wajtinabinnawahih”, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganya.












ISI
Peranan Iman Dalam Era Globalisasi

Zaman globalisasi adalah zaman yang diliputi oleh western civilization, budaya dan informasi yang sangat mengglobal dan tidak bisa ditahan di bagian belahan bumi yang satu. Tantangan dalam Iman dan Islam semakin kuat saat ini, yang bahkan sampai keturunan – keturunan kita saat ini tengah memakan mentah – mentah budaya tanpa saringan yang kuat. Globalisasi yang melanda dunia tidak hanya pada satu bidang saja, tetapi terdapat pada berbagai bidang. Seperti  politik, ekonomi, kebudayaan, dan agama.
            Globalisasi Politik, berarti upaya menundukan semua negara untuk mengikuti super power yakni Amerika. Globalisasi semacam ini pada akhirnya akan membungkam dan menindas hak kaum muslimin seperti yang telah terjadi di banyak negara seperti Kashmir, Philipina, Rusia, dan republik-republik Islam di Asia, dsb.
            Selanjutnya Globalisasi Ekonomi, ini merupakan fenomena yang paling menonjol dan mendapat perhatian yang besar bagi para pakar. Globalisasi Ekonomi pada akhirnya akan berpengaruh bagi politik nasional dan Internasional. Tidak itu saja, dampak dari Globalisasi Ekonomi dengan  kapitalisme dirasakan oleh produsen, konsumen, pasar, dan distributor. Kapitalisme yang mencengkram dunia hanya menguntungkan masyarakat minor yaitu pemilik modal saja. Sedangkan mayoritas lainnya terkuasai, tidak berdaya dan semakin tertindas. Bahkan menjadi buruh di negeri sendiri.
            Globalisasi Kebudayaan adalah adanya upaya memaksa suatu kebudayaan kepada kebudayaan lain. Hal ini akan berpengaruh besar bagi kehidupan sebuah masyarakat. Dewasa ini, masyarakat dicekoki untuk kemudian menjadikan budaya Barat sebagai kesehariannya hingga kemudian budaya yang baru tersebut melepaskan atau mencopot identitas masyarakat. Untuk menanggulanginya, jelas perlu selektif dalam  menerima suatu budaya. Harus dikembalikan  pada akidah.
            Yang terakhir menjadi salah satu agenda membahayakan adalah Globalisasi Agama yang tujuannya adalah menggolkan agenda zionisme dan upaya berdirinya Israel. Tampaknya ummat Islam saat ini telah malu pada ke-Islamannya, tengoklah begitu dahsyatnya arus budaya global sedikit demi sedikit memang diikuti ummat. Budaya yang tidak bisa lepas saat ini adalah musik, pakaian dan alkohol. Seharusnya kita malu ketika melihat betapa bioskop, bar dan klub malam sampai antri berpanjang – panjang hanya untuk mabuk – mabukan, tidak seperti halnya pengajian (biarpun hanya diadakan bulanan) paling hanya diikuti para orangtua dan kaum lansia, kemanakah pemuda – pemudi Islam saat ini? Sayyidina Umar bih Khothob RA., berkata:
Kehormatan Islam akan pudar sedikit demi sedikit jika dalam Islam melupakan zaman Jahiliyah
            Ingatkah bahwa Islam masuk Spanyol pada 711 M, hancur pada 1496 M disebabkan pengkhianatan dari dalam sendiri, yang sebelumnya para kaum muda dihancurkan Izzah dan Iffah ke-Islamannya dengan alkohol dan musik. Entah kenapa saat ini musik begitu mudahnya masuk ke hati sanubari, mata ini gampangnya meneteskan air mata ketika musik maupun nasyid didengarkan, tetapi tidak sedikit pun trenyuh ketika mendengarkan tilawah ataupun ketika tadarus Al – Qur’an.
“Hai orang – orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras pada orang – orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al – Maidah (5): 54)
            Tampaknya budaya buatan yahudi memang gampang sekali diterima daripada risalah-Nya dan sunnah Rasullullah SAW. Budaya yang mengagung – agungkan kebebasan, kekayaan, kepopuleran, keindahan dan kecantikan. Naudzubillahi min Dzaalik. Seorang yahudi yang hijrah ke dalam Islam; Muhammad Assad, mengungkapkan betapa Barat berhutang segalanya kepada Islam. Segala ilmu pengetahuan diperoleh dengan semboyan 3G (gold, gospel, glory), segala kitab – kitab berisi ilmu pengetahuan dari kejayaan Khalifah dan Dinasti Islam disebarluaskan dengan gratis hanya mengharap ridho-Nya, tidak seperti saat ini dengan ditandai oleh hak paten dan royalti dalam semua penemuan.
            Sudah seharusnya kita bangga terhadap ajaran Islam karena dengan segala yang diajarkan, iman yang ada didiri kita menjadi benteng utama. Kenapa kita harus bangga dengan Islam? Berikut adalah beberapa alasan – alasan yang memang harus diingat ketika kita mempertanyakan kenapa harus Islam:
1.      Agama Wahyu
Pemberian nama Islam adalah langsung dari Alloh SWT., tidak seperti Budha dari nama pertapa Sidharta Budha Gautama, Hindu dari lembah Hindustan, maupun Kristen yang merupakan sebutan bagi para simpatisan dan pengikut Nabi Isa AS, ataupun yahudi yang nyata – nyatanya merupakan nama bangsa yang dikutuk-NYA.
“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah agama Islam.” (Q.S. Ali Imron (3): 19).
“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Ali Imron (3): 85).


2.      Agama yang tidak pernah bermasalah dengan nama Tuhannya
“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S.Al – Baqoroh (2) : 255)
Yahudi bermasalah dengan nama Yehova, Yahweh. Kristen bermasalah dengan Yesus bahkan kristen Malaysia sampai menghadapi meja hijau karena memakai “Allah”. Hindu dan Budha bermasalah dengan banyaknya Dewa.

3.      Syariat Ibadahnya tetap tidak pernah berubah
Hindu di Malaysia tidak mengenal ritual Nyepi seperti hindu Indonesia. Protestan tidak mengenal penebusan dosa seperti dalam katolik. Kristen Armenia dan Phalangis (Kristen Arab) merayakan natal tanggal 6 Januari.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan untukmu nikmat-Ku dan Ku-Ridhoi Islam menjadi agamamu.” (Q.S. Al – Maa’idah (5): 3)
Tidak ada syariat ibadah yang berubah semenjak wafatnya Rasul SAW.

4.      Agama yang diberi Uswah Hasanah
Hanya Islam-lah yang diberi Uswah Hasanah langsung dengan Rasul SAW. Sangat lucu apabila seseorang bertanya kepada Paus bagaimana membina keluarga bahagia, tetapi Paus tidak boleh beristri, begitu pula halnya ketika bertanya kepada para biksu yang telah meninggalkan keduniawian.

5.      Agama yang sesuai Fitrah Manusia
Segala sesuatu aspek kehidupan manusia benar – benar diatur dalam Islam. Ibadah, zakat, sholat, haji, shaum, perang, kerja, makan – minum, berbicara, berpakaian, kepemimpinan, bahkan hubungan suami – istri pun ada adab – adab yang mengatur. Sudah selayaknya, kita sebagai manusia yang tidak pernah luput dari khilaf dan lupa, selalu mengembalikan semuanya pada Allah SWT., dengan berpegang teguh kepada ke-Tauhidan dan risalah-Nya yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. ArRahman (55) : 26 – 30).
            Gejala yang acapkali disebut arus globalisasi, diringi dengan program-program mendunia dengan menampilkan beberapa ciri kebebasan, antara lain "perdagangan bebas” yang tentu saja akan menampilkan persaingan yang tinggi dan tajam. Sebenarnya globalisasi berarti pula suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, the act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary.
            Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital ditemui dalam kenyataan sering terlepas dari sistim nilai dan budaya. Perkembangan ini sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Suka atau tidak bila tidak disikapi dengan kearifan dan kesadaran pembentengan umat, pasti akan menampilkan benturan-benturan psikologis dan sosiologis. Pada Era globalisasi telah terjadi perubahan-perubahan cepat. Dunia menjadi transparan, terasa sempit, hubungan menjadi sangat mudah dan dekat, jarak waktu seakan tidak terasa dan seakan pula tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri yakni hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.















 

LATAR BELAKANG

A.  Fenomena Yang Nampak Pada Era Globalisasi Ini

Setelah mengamati globalisasi selama puluhan tahun terakhir ini, kita semua kiranya mampu melihat hasil-hasil positif maupun akibat-akibat negatif yang muncul darinya. Berikut adalah beberapa hal yang dapat kita lihat dengan cukup mudah, tanpa harus mengadakan penelitian yang rumit dan menggunakan alat yang canggih.
Di bidang ekonomi, globalisasi telah memunculkan beberapa “pasar raksasa”. Uni Eropa dan Asia, misalnya, kiranya boleh dilihat sebagai dua “pasar raksasa” yang baru, yang memiliki potensi untuk menjadi pesaing bagi Amerika Utara, yang barangkali layak kita sebut sebagai “pasar raksasa” yang pertama. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Amerika Selatan juga berpotensi untuk berkembang menjadi “pasar raksasa” yang keempat. Salah satu hasil positif dari adanya beberapa “pasar raksasa” itu adalah meningkatnya kesempatan bagi semakin banyak bangsa di bumi ini untuk ikut mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Dan bersamaan dengan itu, salah satu akibat negatif darinya adalah meningkatnya risiko kerugian atau bahkan kebangkrutan, yang dapat diderita oleh beberapa bangsa, yang tidak cukup mampu untuk bersaing “secara bebas” pada “pasar-pasar raksasa” itu.
Di bidang politik, globalisasi hampir-hampir menghapus adanya Blok Barat dan Blok Timur. Akhir-akhir ini, lobby-lobby politik antarbangsa bergerak begitu luwes dan cepat, sedemikian dinamis sehingga di dunia ini mulai muncul “blok-blok sementara”, yang dapat terbentuk secara cepat namun dapat bubar secara cepat pula. Salah satu hasil positif dari “cairnya” hubungan-hubungan antarbangsa itu adalah semakin meningkatnya kebebasan banyak bangsa untuk memilih partner kerjasama, dalam menghadapi tantangan-tantangan yang sama atau serupa. Tidak ada lagi bangsa, betapapun kuatnya, yang dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya sepenuhnya dengan kekuatannya sendiri. Dalam menghadapi masalah terorisme, misalnya, bisa saja bangsa Indonesia bekerjasama dengan bangsa Amerika dan bangsa Australia. Sementara itu, dalam menghadapi masalah lapangan kerja, bangsa Indonesia barangkali lebih memerlukan kerjasama dengan bangsa Malaysia, Brunei, Korea, Jepang, dan negara-negara Arab. Namun, di masa depan, “cairnya” hubungan antarbangsa semacam itu juga dapat menimbulkan akibat yang negatif. Tidak adanya Blok yang solid seperti pada abad yang lalu itu mungkin saja menumbuhkan sikap politik “opportunistik” pada banyak politisi dan pemimpin bangsa.
Di bidang budaya, globalisasi telah menipiskan sekat-sekat yang ada di antara berbagai komunitas budaya. Dewasa ini, makin banyaklah orang Asia dan orang Afrika yang cukup mengenal dan memanfaatkan unsur-unsur budaya Amerika Serikat dan budaya Eropa Barat. Di masa depan, tidaklah mustahil bahwa makin banyak orang Amerika Serikat dan orang Eropa Barat akan cukup mengenal dan memanfaatkan unsur-unsur budaya Asia dan budaya Afrika. Bila dilihat secara positif, kenyataan itu dapat menjadi tanda bahwa secara kultural umat manusia di dunia mulai menyatu. Namun bila dilihat secara negatif, kenyataan itu dapat menjadi tanda bahwa secara kultural sebagian dari umat manusia mulai terlepas dari “akar budaya” mereka. Perspektif negatif ini, misalnya, dapat ditafsirkan dari adanya kenyataan bahwa pop culture yang bersifat Western sedang mengalir begitu deras ke seluruh dunia, antara lain melalui penyebaran content industries dari negara-negara Anglo-Amerika ke negara-negara lain.

B.   Dampak Globalisasi Merupakan Masalah Yang Menarik Untuk Dibahas

Globalisasi adalah proses makin menyatunya umat manusia di bumi, antara lain karena makin majunya teknologi tele-komunikasi dan teknologi transportasi. Semakin maju teknologi telekomunikasi, semakin mudah seseorang dapat berkomunikasi dengan orang-orang lain, juga dengan mereka yang bertempat tinggal jauh sekali dari tempat tinggalnya sendiri. Semakin maju teknologi transportasi, semakin mudah dan cepat seseorang dapat bepergian dari satu tempat ke tempat-tempat lain serta bertemu dengan banyak orang lain.
Karena kemajuan teknologi itu dapat tetap terjadi, bahkan barangkali dengan kecepatan yang makin tinggi, globalisasi kiranya tidak akan berhenti, melainkan akan berjalan terus, bahkan barangkali dengan kecepatan yang makin tinggi. Maka kiranya layaklah kalau kita katakan, bahwa kita tidak dapat menghentikan atau menolak proses globalisasi, yang sudah dimulai sejak abad yang lalu. Kita hanya dapat mengakui dan menerimanya, entah dengan rasa sangat senang, entah dengan rasa kurang senang.
Bersamaan dengan sikap itu, kita perlu menyadari, bahwa globalisasi merupakan hasil atau dampak dari pekerjaan umat manusia sendiri. Maka umat manusia, yakni kita semua, perlu dan dapat memengaruhi jalannya globalisasi selanjutnya. Hal itu berarti bahwa kita perlu dan dapat membuat proses globalisasi di masa depan lebih menguntungkan daripada merugikan umat manusia, dengan meningkatkan hasil-hasil positifnya dan mengurangi akibat-akibat negatifnya.
Globalisasi tidak perlu kita hadapi dengan ketakutan dan kecemasan, sebab globalisasi itu bukan hantu atau roh jahat. Globalisasi sebaiknya kita handle and tackle dengan kewaspadaan dan kepercayaan diri, sebab globalisasi merupakan sebuah proses sejarah umat manusia yang muncul dari perbuatan kita sendiri, sebuah dinamika sejarah yang dapat kita kendalikan dan kita arahkan menuju kebaikan, asal saja untuk itu kita gunakan cara-cara yang tepat.

 


BAB II

RUMUSAN MASALAH


 Bagaimanakah peranan  iman dalam menghadapi dampak negatif globalisasi.

























BAB III

PEMBAHASAN

 

Peranan Iman Dalam Menghadapi Dampak Negatif Globalisasi

Dampak negatif globalisasi adalah suatu masalah besar yang harus di hadapi oleh setiap orang (Manusia) karna seperti yang kita lihat selama ini semakin bertambahnya zaman pasti akan ada perubahan baik dalam segi moral, agama, budaya, maupun dalam segi sosial kehidupan di dalam masyarakat. Dan yang paling utama dalam segi agama, kepercayaan dan keyakinan sehingga dalam segi iman dan taqwapun berkurang. Peranan iman dan taqwa dalam menjawab problema dan tantangan kehidupan modern pengaruh iman terhadap kehidupan manusia sangat besar.
Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat dan pengaruh iman pada kehidupan manusia:
1. Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda.
Orang yang beriman hanya percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis kepercayaan pada khurafat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah surat al-Fatihah ayat 1-7.
2. Iman menanamkan semangat berani menghadap maut.
Takut menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara manusia yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah dalam QS. an-Nisa/4:78.

3. Iman menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
Rezeki atau mata pencaharian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendiriannya, arena kepentingan penghidupannya. Kadang-kadang manusia tidak segan-segan melepaskan prinsip, menjual kehormatan dan bermuka dua, menjilat dan memperbudak diri untuk kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam hal ini ialah firman Allah dalam QS. Hud/11:6.
4. Iman memberikan ketenteraman jiwa.
Acapkali manusia dilanda resah dan dukacita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman mempunyai keseimbangan, hatinya tenteram (mutmainnah), dan jiwanya tenang (sakinah), seperti dijelaskan dalam firman Allah surat ar-Ra’d/13:28.
5. Iman mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
Kehidupan manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu menekankan kepada kebaikan dan mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya QS. an-Nahl/16:97.
6. Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
Iman memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat dengan ikhlas, tanpa pamrih, kecuali keridhaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berpedoman pada firman Allah dalam QS. al-An’am/6:162.
7. Iman memberi keberuntungan
Orang yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar, karena Allah membimbing dan mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah/2:5.
8. Iman mencegah penyakit
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh iman. Hal itu karena semua gerak dan perbuatan manusia mukmin, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan, minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah hormon. Kerja bermacam-macam hormon diatur oleh hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.
Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku hidup.












 

 

BAB IV

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Iman dan taqwa sangat penting dalam kehidupan modern, apalagi dalam menghadapi dampak globalisasi ini. Jika dalam kehidupan modern yang serba canggih tidak menghiraukan lagi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah maka akan banyak timbul problem dan tantangan yang terjadi, baik dibidang ekonomi, social, agama, maupun keilmuan itu sendiri.
Iman dan taqwa juga mempunyai peran penting dalam kehidupan dunia modern, dalam kehidupan modern yang serba cepat sering kali memicu timbulnya stress dan berbagai penyakit. Iman dan taqwa mempunyai peran antara lain:
1)      Iman dan taqwa melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda,
2)      Iman dan taqwa menanamkan semangat berani menghadap maut
3)      Iman dan taqwa menanamkan sikap “self-help” dalam kehidupan.
4)      Iman dan taqwa memberikan ketenteraman jiwa.
5)      Iman dan taqwa mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan tayyibah).
6)      Iman dan taqwa melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen.
7)      Iman dan taqwa memberi keberuntungan Iman mencegah penyakit.

B.   SARAN
Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu :
1. Masyarakat perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada umumnya.
2. Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru, sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita.
3. Masyarakat perlu menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative.

Imtihana,aida.dkk.2009.Buku Ajar Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum.
Labay,Mawardi.2000.Zikir dan Do’a Iman Pengaman Dunia.Jakarta:Al Mawardi Prima.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar